Posts

RUKUN HAJI MENURUT EMPAT MADHAB LENGKAP

Rukun Haji Dalam Empat Madhab RUKUN HAJI MENURUT FIQIH MUQORIN DAN EMPAT MADHAB Rukun haji adalah ritual haji yang apabila ditingggalkan dengan sengaja atau lupa tidak bisa diganti dengan dam (denda) dan hukum hajinya batal. Rukun-tukun haji menurut madzahibul arba’ah adalah sebagai berikut. Versi Imam Hanafi 1.      Wiquf di ‘Arafah 2.      Thawaf Ifadah Versi Imam Maliki dan Imam Hambali 1.        Ihrom 2.        Wuquf di ‘Arafah 3.        Thawaf Ifadah 4.        Sa’i di antara Shafa dan Marwa Versi Imam Syafi’i. baca juga : jarak qosoh sholat mnurut 4 madhab 1 1.       Ihrom 22.       Wuquf di ‘Arafah 33.       Thawaf Ifadah 44.       Sa’i di antara Shafa dan Marwa 55.   ...

Hukum Kewajiban Melakukan Haji Menurut Empat Madhab

Hukum Melakukan Haji Menurut Empat Madhab pandangan empat madhab tentang kewajban haji Haji merupanan salah satu rukun islam yang harus dijalani bagi seluruh umat islam, namun dalam hal bab haji ada batasan-batasan tertentu seseoarang dapat terkena kewajiban haji. Berikut pandangan ulama madhab tentang hukum kewajiban haji : Versi Imam Maliki, Hanafi dan Hambali Kewajiban seseorang terkena kewajiban haji adalah dengan ukuran dari isthitha’ah (mampu)nya yaitu ketika seseoarang tersebut sudah mampun dalam segi finansial , jiwa dan raga ketika kompenen tersebut sudah ada pada diri seseorang maka ulama tiga menyatakan kewajiban haji ‘alal faur (dengan segera), ketentuan hukum ini berlandasan hadits nabi SWA yang diriwayat oleh Ibnu Majjah. BACA JUGA : JARAK QOSOR SHOLAT MENURUT 4 MADHAB Versi Imam Syafi’i Seseorang yang sudah isthitha’ah (mampu) melaksankan ibadah haji, tidak harus menunaikannya dengan segera ( faur ), melainkan bleh menunggu di tahun-tahun be...

jarak qosor menurut empat madhab lengkap dan pengertian dua marhalah

Jarak Qosor Dan Puasa Menurut Empat Madhab pengertian dua marhalah menurut empat madhab Versi imam Maliki, Syafi’i dan Hambali Pada artikel sebelum adalah pendapat imam Hanafi klik baca arikel,, ,Ketiga ulama tersebut berpendapat bahwa, perjalanan yang memperbolehkan seseoarang di perkenan kan untuk berbuka puasa adalah ketika seorang musafir tersebut sudah mencapai jarak tempuh dua marhalah atau sama dengan jarak ( 81 km ). Catatan : Meskipun seorang musafir tidak wajib untuk melaksanakan puasa dalam perjalanan, para ulama tersebut sepakat bahwa musafir tersebut diperkenankan dan sah ketika dia melakukan puasa,kecuali menurut Abu Hurairo, Dawud Ad-dzahiri, golongan Syi’ah dan Rafidlah , menyatakan bahwa puasa seorang musafir tersebut tidak sah. Demikian penjelasan dari kami. BACA juga : niat puasa menurut 4 madhab

Ukaran Jarak Boleh Berbuka Puasa Dan Qosor Menurut 4 Madhab

Ukaran Jarak Boleh Berbuka Puasa Dan Qosor Ukuran jarak perjalanan bagi seseorang yang sedang dalam perjalana menurut 4 madhab. Dalam pandangan qoidah fiqih bahwa semua orang berhak mendapatkan rukso (kemurahan) ketika pada dirinya terdapat madorot, bentuk-bentuk madorot tersebut terdapat pada kitab faroidul bahiah. Dari dali-dalil yang telah di sebutkan dalam kita-kitab hadist bahwa semua ulama mdhab sepakat bahwa seseorang yang dalam keadaan perjalanan itu tidak berkewajiban untuk melakukan puasa pada saat itu dan tetap wajib melakukan qodlo’ ketika sudah tidak musafir lagi, namun dalam madahibul arba’ah masih ada perbedaan pendapat dalam menentukan kriteria perjalanan yang tidak mewajibkan berpuasa, sebagaimana penjelasan tersebut : baca juga : niat puasa menurut 4 medhab Versi imam Hanafi Beliau berpendapat, bahwa perjalanan yang tidak mewajibkan puasa itu harus mencapai jah, Jarak tempuh tiga marhalah atau dengan ukuran 125,5 km. LANJUTKAN BACA... . baca : wakt...

Niat puasa menurut 4 madhab dan watunya

Niat  puasa menurut 4 madhab dan watunya 2.        Versi imam Malik Pada artikel sebelumnya adalah pendapat imam Hanafi klik baca artikel... Niat puasa fardu yang disyaratkan terus menurus ( tatabu’ ), seperti puasa ramadlan, puasa kifarat ‘uzma’ (berhubungan badan di siang hari saat puasa ramadla) cukup satu kali pada hari pertama, sedangkan niat pada hari berikutnya dianggap cukup. Dalam hal ini sebagian madhab hambali ada yang sepakat dengan imam maliki. Yaitu niat puasa ramadlan cukup hanya sekali pada awal saja, dengan alasan pada hari-hari ramadlan dihukumi satu rangkaian ibadah yang konsekuensi hukumnya sama. Niat puasa fardu yang tidak disyaratkan terus menerus (tatabu’) seperti puasa qodlo’ ramadlan dan kifarat sumpah, wajib niat dikakukan seriang hari, 3.      Versi imam Syafi’i dan Hmbali Syarat puasa menurut kedua madhab iini harus disertai niat dan penentuan puasa (ta’yin), seperti puasa ramadlan, puasa nadzar ataupun...

Waktu niat puasa ramadlan menurut empat madhab lengkap

waktu niat puasa menurut empat madhab dan perbedaaanya Madahibul arba’ah sepakat bahwa puasa dilakukan harus adanya niat, namun 4 madhab masing masing berbeda pendapat tantang pelaksaan/waktu niat, berikut keteranganya : 1.        Versi imam Hanafi Dalam dalam niat bukanlah termaksud rukun puasa, namun merupakan sah puasa seperti artikel sebelumnya karena menuru beliau rukun puasa itu hanya 1, yaitu menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Berikut adalah hal yang harus di perhatikan dalam niat. 1.        Niat puasa harus dilakukan setiap hari. 2.        Tidak harus menta’yin (menentukan puasanya) contoh puasa ramadlan dan nadzar. 3.        Pelaksaan niat dilakukan pada waktu antara terbenamnya matahari sampai waktu tengah hari/duhur, dan yang paling utama dilakukan pada malam   hari. Ketiga hal tersebut adalah niat yang berkaitan denga...

syarat puasa menurut 4 madhab dan letak perbedaanya lenkap

Syarat-syarat puasa menurut 4 madhab Versi imam hanafi . Menurut imam Hanafi syarat puasa terbagi menjadi 3 bagian 1.       Syarat sah puasa. 2.        Syarat wajib puasa. 3.        Syarat wajib melakukan puasa. Syarat wajib puasa 1.        Islam. 2.        Balig. 3.        Berakal. Syarat sah puas 1.        Suci dari haid dan nifas. 2.        Niat. Syarat wajib melakukan puasa 1.        Sehat dari semua penyakit. 2.        Iqomah (tidak dalam keadaan berpergian). Versi imam Malik                                ...